eksploitasi seksual (???)
Friday, July 29th, 2005:: brain beauty beahavior ::
Tertarik dengan judul di atas (‘’,)? Sebelum saya mulai, jujur, beberapa di antara teman saya mengecap saya sebagai seorang feminis (aduh, istilah merendahkan apa itu ?!) yang sensitif dan pedas mulut kalau bicara soal eksploitasi seksual pada wanita. Sayang sekali mereka berpendapat begitu :). Perlu diketahui bahwa (bahkan bagi saya pun) isu-isu gender hanya akan jadi debat kusir jika tidak disertai dengan alasan/argumen yang tidak hanya kuat namun ilmiah dan akurat.
Masih berminat meneruskan (‘’,)? Baik. Rock on..
Kali ini saya gatal sekali ingin membahas kontes-kontes kecantikan secara umum. Lebih spesifik lagi, saya ingin membahas pendapat-pendapat seputar kontes-kontes kecantikan tersebut. Ya, itu berarti termasuk Putri Indonesia, Miss Universe, Miss World, dan sebagainya. Mengingat tulisan saya kali ini adalah jenis topik yang memungkinkan terjadinya flame di pelbagai forum (karena itu saya pilih untuk menuliskannya di blog) maka dengan sangat rendah hati saya minta Anda (yang lagi iseng baca blog saya ini) memperhatikan beberapa pernyataan sederhana di bawah ini. Apabila Anda menyetujui (dalam hati bilang “ya-ya” sambil mengangguk-angguk senang) pada satu atau bahkan mungkin lebih dari pertanyaan berikut, saran saya tidak perlulah meneruskan membaca :). Saya menulis hanya untuk penyaluran apa saja yang menggrundel di hati seperti benang kusut. Kita mulai :
- Sistem kapitalisme adalah biang keterpurukan ekonomi (merasa ga’ nyambung ? ayo, jawab aja hehe).
- Kontes kecantikan adalah eksploitasi yang dikemas dengan baik atas nama intelektualitas.
- Sesi penilaian pakaian renang (swimsuit — kerennya) merendahkan wanita karena mengumbar tubuh di muka publik.
- Peserta kontes mungkin cerdas tapi jelas menyepelekan norma-norma serta mencari cara mudah mencari popularitas serta bargaining position di tengah masyarakat.
Saat ini saya sedang tersenyum-senyum membayangkan reaksi seseorang yang mungkin berkomentar ‘judes amat’
dalam hati. Bagaimanapun, saya akan lanjutkan. Asumsi saya (ada juga
orang yang sebal kalau saya mulai berasumsi — bukan begitu, sayang ?),
mereka yang sampai ke paragraf ini adalah orang yang menjawab ‘tidak
setuju’ pada semua pernyataan di atas atau menjawab ‘ya-ya’ tapi tetap
nekat atau malah membaca langsung ke paragraf ini. Bagi yang nekat ya
sudahlah. Yang penting saya sudah memperingatkan lho. Kalau mau
dianalogikan, mereka yang nekat adalah penghujat komunisme sementara
saya menyanjung-nyanjung Stalin dan mendewakan Karl Marx.
Kontes kecantikan. Suatu konsumsi masa kini yang dibungkus dengan cantik bertaburan wajah dan tubuh aduhai. Sebenarnya sayang sekali sesi pakaian renang tidak diputar di stasiun TV kita — saya senang lihat bikini-bikini cantik yang mereka bawakan dan lagi saya jadi termotivasi punya dada-pinggang-pinggul yang bikin rahang ternganga begitu. Sebaliknya, saya selalu mengernyitkan kening kalau melihat cover salah satu majalah lokal yang cukup ‘populer’, apalagi pose-pose model di dalamnya. Hmmm.. Bagi saya deskripsi tersebut bodoh dan dangkal dan pendapat bahwa kontes kecantikan adalah selubung eksploitasi tubuh wanita adalah hal yang konyol dan menggelikan. Lebih menggelikan lagi saat saya lihat kaum ibu berdemonstrasi menuntut dibatalkannya pengiriman Miss Indonesia 2005 untuk mengikuti kontes Miss Universe beberapa bulan kemarin. Komentar saya yang sinis (dan judes) saat itu hanyalah ‘sirik aja karena engga punya tubuh bagus; yang punya badan aja engga protes atau merasa dieksploitasi kok elu ribut-ribut’. Yah, komentar saya sama dangkalnya tapi ampuh agar saya tidak naik pitam sendiri. Hahaha.
Kenapa buat saya demonstrasi itu menggelikan ? Untuk bisa turut berempati (…), ayo bayangkan apa yang saya bayangkan. Saya membayangkan sekumpulan bapak dan eksekutif muda pria yang necis, mengenakan hem mulus disetrika lengkap dengan jas dan dasi (mungkin), berdemostrasi menentang olahraga binaraga di halaman MPR kita. Tersenyum tidak ? Tidak ? Ya engga apa, toh, saya iya (sekarang saya juga sedang makan cokelat yang bikin mood jadi baik).
Apa hubungannya dengan kontes kecantikan kita ? Begini… Bicara soal eksploitasi, sesi pakaian renang hanyalah sebagian kecil dari sesi-sesi yang dinilai. Bicara soal eksploitasi, tidak terjadi pengukuran alat-alat (baca : bagian tubuh) apapun yang menempel atau pun menonjol, yang merupakan bagian tubuh wanita. Sebaliknya, pada olahraga binaraga, di mana para kontestan yang notabene pria, memakai cawat (kalau tidak mau dibilang celana dalam yang mini banget — yang lebih parah ketimbang one-peice swimsuit) dan memamerkan otot-otot yang menonjol di balik kulit yang dibaluri minyak agar tampak berminyak (ya, jelas), mengkilat, dan mudah-mudahan (pikir yang menemukan aturan olahraga itu), jadi terlihat seksi. Mereka berpose dalam berbagai gaya. Belakang : pamer otot punggung dan (maaf) pantat; depan : pamer otot dada dan abdomen (walaupun perut six-pack sudah bukan barang eksklusif sekarang); kencangkan oto bisep dan trisep : buat diukur lingkarnya. Sementara, di kontes kecantikan, saat sesi pakaian renang, para kontestan dengan kaki yang cantik dan jenjang itu hanya disuruh berjalan saja layaknya di atas catwalk membawakan gaun cocktail plus berfoto sedikit, tidak dengan pose murahan seperti di beberapa majalah dan tabloid lokal. Tidak pernah saya lihat, peserta Miss Universe di manapun dilumuri minyak agar pantulan cahaya menonjolkan bagian-bagian yang menonjol itu.
Peserta olahraga binaraga juga tidak ditanya macam-macam atau dilihat keserasiannya saat mengenakan jas dan kemeja, misalnya. Mungkin mereka terlihat seksi saat pakai celana dalam mini — saya sendiri tidak berpikir bahwa kulit yang diminyaki dan otot yang bertonjolan itu seksi — tapi bisa saja mereka terlihat tidak serasi dalam pakaian biasa.
Mana yang lebih mengumbar tubuh ?
Perlu diingat bahwa dalam kontes internasional tersebut, kepandaian berbahasa dan berkomunikasi juga dinilai sehingga mereka yang mampu berbahasa internasional lebih baik, punya kesempatan lebih baik pula memenangkan kontes. Pertanyaan yang diajukan mungkin bukan pertanyaan eksakta (siapa juga bilang hanya pertanyaan eksakta yang benar-benar mengukur intelektualitas seseorang ?) tapi jelas seseorang butuh berpikir jernih, cepat, dan tajam untuk bisa memberi jawaban cerdas. Belum lagi kalau harus menerjemahkan ke bahasa Inggris. Lha wong, dosen-dosen universitas terkenal kita saja banyak yang bahasa Inggrisnya memble :). Tata bahasa (grammar) yang sempurna atau cadangan kata (vocabulary) yang menyamai kamus tidak menjamin seseorang bisa dimengerti lawan bicaranya. Seringkali, kontestas yang gugup menjawab sambil terpatah-patah dan jawabannya tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang diajukan (haloooo, para kontestan Putri Indonesia yang ingin dianggap hebat dengan menjawab soal menggunakan bahasa Inggris ?).
Kalau mau iseng memperhatikan, bukannya mencibir dan memandang rendah, cukup banyak dari peserta kontes kecantikan yang mempunyai pekerjaan tetap. Ada yang pengacara, ada yang guru, ada yang dokter gigi, ada pula mahasiswa. Mereka menjalani proses yang panjang dan tidak sebentar. Ada seleksi ketat dari kontes lokal di neagar masing-masing. Beberapa harus rela menjalani hari-hari karantina dan pelatihan mungkin setahun sebelumnya. Dan lebih parah, saya sih tidak mau terkurung di suatu tempat dengan sekian banyak wanita cantik yangnyaris sempurna, yang akan jadi saingan di suatu kompetisi, selama berbulan-bulan. Women could be very nasty, you know ;). Okay, itu pendapat subyektif tapi ini kan blog saya hahaha.
Tentang popularitas. Coba berhitung, dari sekian ratus lulusan
kontestan kontes kecantikan bertaraf internasional, berapa orang yang
tetap beken dan menjadi artis atau tetap diingat 10 tahun kemudian ?
Saya tidak akan merujuk pada kontes serupa dalam negeri. Sebab apapun
dan siapapun yang nongol di stasiun TV lokal dalam berbagai ajang,
pasti nantinya jadi “selebritis” (satu penggunaan kata yang membuat
saya merinding setiap kali mendengarnya). Yang asalnya menyanyi
tiba-tiba bisa berakting sambil mengatakan, “Saya suka sekali berakting meskipun saya lebih suka nyanyi. Dari dulu juga udah kepengen.”
Kembali lagi pada popularitas. Kuat berapa lama popularitas bertahan ?
Saya ragu, motivasi popularitas-lah (yang hanya sepersekian bagian dari
umur mereka di dunia) mampu membuat mereka mau berkorban waktu untuk
mengikuti kontes tersebut.
Kesimpulannya adalah saya tidak punya masalah dengan kontes-kontes tersebut. Saya heran mengapa ada wanita yang mempersoalkannya. Justru yang bermasalah buat saya adalah mereka yang protes karena alasan-alasan yang sudah saya sebutkan di atas. Kalau yang keberatan tidak suka, ya tidak usah ditonton. Tidak usah protes (karena bukan badanmu juga, kan?) dan membuat kecil hati peserta yang ikut dari Indonesia. Sudah begitu, pakai teror dan mencemarkan nama baik pula (tega bener sih ?!). Mau menulis di koran pun, silakan. Asala tidak provokatif dan lalu membawa-bawa keimanan sambil menganggap bahwa wanita yang begitu itu kurang percaya diri lalu mengajak wanita tersebut menggali potensi diri agar bisa punya bargining position di masyarakat. Walah.. ajakan yang positif dengan alasan yang, paling tidak buat saya, payah.
Sudah ah. Sudah malam. Saran saya, slogan sebagus itu, tinimbang dihujat dan dianggap cuma bungkus, lebih baik dipraktekkan juga buat para penentang : brain, beauty, behavior. Atau mereka marah-marah karena ngga ngerti artinya mungkin ? ya, ya, coba kita Indoensiakan : kecerdasan (emosional dan intelektual — iya, iya brain ya otak), kecantikan, perilaku..
Kok ngga seragam ya… hmmm… mestinya kalau semua awalan ‘ke’ itu lebih cocok hehehehehe.